Napas mobil murah di bumi Nusantara sepertinya bakal bertambah panjang. Ini dipastikan setelah Pemerintahan Joko Widodo mulai meramu proyek terbaru bertajuk mobil murah jilid kedua. Proyek tersebut merupakan lanjutan dari program presiden sebelumnya yang dicanangkan Susilo Bambang Yudhoyono, low cost and green car (LCGC) atau Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar (KBH2) pada 2013 lalu. Menurut skema, LCGC jilid kedua bakal ditawarkan sebagai mobil yang jauh lebih irit bahan bakar ketimbang LCGC tahap pertama. Artinya jika dalam aturan LCGC sebelumnya kendaraan wajib memiliki efisiensi bahan bakar 20 kilometer per liter, kini pada program jilid kedua akan lebih dari itu. Sikap pemerintahan Joko Widodo yang tampak agresif dengan proyek LCGC memang agak mengejutkan. Sebab dahulu, sewaktu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi adalah orang yang paling keras menolak hadirnya mobil murah. Jokowi menganggap program LCGC merupakan kebijakan yang keliru, karena khawatir jus...
Ada flakka. Narkoba jenis baru. Kasus narkoba baru mengemuka ketika munculnya kasus puluhan remaja yang mengalami gangguan mental dan kejang-kejang di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Rabu, 13 September 2017.
Dari data yang diperoleh VIVA.co.id, para korban ini setidaknya berjumlah 30-50 orang. Mereka dirawat di tempat berbeda-beda antara lain RSJ Kendari, RSUD Kendari, RS Bhayangkara Kendari, RS Korem 143 Kendari, dan RSUP Bahteramas.
Di RSJ jumlahnya mencapai sebelas orang, RS Korem dua orang, RSUD Abunawas seorang, RS Bhayangkara empat orang, RSUP Bahteramas dua orang, dan sisanya di sejumlah puskesmas.
Badan Narkoba Nasional memang belum memastikan penyebabnya. Namun, setelah melakukan penyelidikan, mereka menduga para remaja itu mengalami kondisi seperti itu usai mengonsumsi narkoba jenis baru, Flakka. Meskipun belakangan, Deputi Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Polisi Arman Depari mengemukakan pernyataan berbeda.
Kepala BNN Kendari, Murniaty, menginformasikan flakka adalah narkoba yang bahannya dicampur dari berbagai merek obat atau beberapa jenis narkoba. Dia mengakui institusinya tengah menyelidiki peredaran barang jahannam tersebut.
Untuk kasus di Kendari, Murniaty menyatakan para korban ada yang meracik dan meminum sendiri. Sementara korban lain diberi oleh seseorang yang identitasnya masih ditelusuri.
"Obat yang diminum ini sejenis Flaka, yang campuran dari Somadril, PCC (Paracetamol Cafein Carisoprodol) dan Tramadol," ujarnya.
Sementara itu, Direktur RSJ Kendari, dr Abdul Razak, membenarkan apa yang dialami para remaja itu diakibatkan oleh obat-obatan atau benda yang bersifat obat. Dia setuju mereka mengalami gangguan mental akibat obat-obatan bukan menderita penyakit mental.
Efek yang ditimbulkan
Salah satu korban berinisial HN, 16 tahun, menceritakan efek flakka pada dirinya. Setelah minum obat-obatan itu, dia sempat tak sadarkan diri.
Lalu, ia merasa ingin berbuat apa saja dan seakan terbang. Dia juga merasa perasaan itu biasa saja tetapi orang lain yang melihatnya menganggap berbahaya.
"Saya minum ada dua jenis obat. Saya racik sendiri dan saya minum. Jumlahnya ada tujuh butir," kata Hari sambil berbaring dengan kaki dan tangan diikat.
Kejadian lebih buruk ditemukan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Kamis, 14 September 2017. Satu korban bernama Reksi Indra, meninggal akibat mengonsumsi narkoba jenis Flaka itu.
Reksi meminum flakka pada Rabu, sehari sebelumnya. Dia kemudian merasa kepanasan dan menceburkan diri di laut Teluk Kendari. Pemuda 20 tahun itu pun akhirnya tewas karena tenggelam.
Dari hasil pemeriksaan orang tua korban diketahui, sebelum menceburkan diri ke laut, Reksi mengalami gangguan mental, kejang-kejang, dan teriak-teriak hingga mengamuk.
"Dia lari dari rumah ke Teluk (Kendari). Dia lompat ke laut dari pagi sampai malam kemarin. Ada orang yang lihat hanya dianggap sedang berenang. Memang sebelum melompat ke laut dia sempat kejang-kejang dan mabuk," kata ayah Reksi, Abdul Rauf, ketika ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari.
Selain Reksi, korban lainnya juga berjatuhan. Mereka adalah N, seorang bocah berumur 12 tahun, meninggal dunia pada Selasa, 12 September 2017, kemudian Mulyadi, 18 tahun.
Kenyataan yang memilukan, ketiga korban itu tewas dengan cara serupa. Setelah mengonsumsi flakka, mereka mengalami gangguan mental, kejang-kejang, dan teriak-teriak hingga mengamuk. Lalu merasa kepanasan, menceburkan diri ke laut Teluk Kendari sampai akhirnya tewas.
DAPATKAN BONUS DEPOSIT AWAL SBOBET CASINO 338A
- Deposit 100 Ribu Dapat Bonus Deposit Awal 20%
- Deposit 300 Ribu Dapat Bonus Deposit Awal 30%
- Deposit 100 Ribu Dapat Bonus Deposit Awal 20%
- Deposit 300 Ribu Dapat Bonus Deposit Awal 30%



Comments
Post a Comment